SWL edisi perdana

M54 benar-benar berakhir… tapi pakTon telah menghadirkan penggantinya : swl
dan edisi perdananya terbit 15 Juni 2009.
spesial dan masih segar, edisi pertama kali ini saya postingkan lengkap :
——————————————————-
swl 1.001 Monday, June 15, 2009
1. Berusaha konsisten pada keputusan, serta tetap menghormati keinginan dan kepercayaan rekan-rekan, dengan ini saya buka ajang komunikasi interaktif dengan nama “swl“. Semoga berkenan di hati rekan-rekan, mari!. TNX.
2. Mohon maaf ada beberapa sms rekan yang belum saya balas; pulsa cekak😦
3. Sudah isi dan kirim kembali formulir pendaftaran Temu Pendengar RTI yang direncanakan di Jakarta Sabtu 1 Agustus 2009 dan Yogyakarta Minggu 2 Agustus 2009? Deadline 25 Juni 2009 cap pos. Habis itu, tunggu Undangan resminya. TA
? MEDIA NETWORK
· Adopsi media baru atau hadapi kegagalan
June 5th, 2009 – 9:27 UTC by Andy Sennitt
Para brodkaster tradisional akan menjadi tidak relevan dalam beberapa tahun lagi kecuali mereka mengadopsi media baru, demikian yang terdengar dalam sebuah pertemuan internasional di Bonn hari ini. Peringatan yang membingungkan itu disampaikan oleh Tim Weber, yang memperhatikan konten bisnis BBC di radio dan layanan online-nya. Ia mengatakan kepada Global Media Forum bahwa adalah penting bagi para brodkaster memanfaatkan media online guna mencapai sebanyak mungkin pendengar. Dalam lautan pilihan digital, satu hal yang membuat mereka tetap tegar adalah cap mereka, katanya.
Direktur Asia Journalism Fellowship yang bermarkas di Singapore, P N Balji, mengatakan media tradisional tetap merupakan kekuatan besar di Singapore karena belum seorangpun menemukan satu cara menangguk uang dari media baru. Namun, katanya para brodkaster sadar bahwa “tsunami media baru” sedang mendekati mereka. Tetapi mereka tahu betul kapan hal itu akan datang atau bagaimana menghadapinya.(Sumber: Asia-Pacific Broadcasting Union)
· Deutsche Welle bangun proyek radio pendidikan di Afghanistan
June 5th, 2009 – 14:38 UTC by Andy Sennitt
Menyusul di tahun ini, Deutsche Welle akan membuat program radio ekstensif dalam bahasa Pashto dan Dari dengan sasaran pendengar lebih muda di Afghanistan. Proyek edukasi interaktif “Learning by Ear for Afghanistan” akan berfokus pada topik-topik seperti edukasi, demokratisasi dan proses pembangunan kembali negeri.
Erik Bettermann, Direktur Jendral brodkaster internasional Jerman, mengumumkan perkembangan baru itu pada acara penutupan Global Media Forum Deutsche Welle di Bonn. “Kami membangun atas dasar pengalaman positif kami yang ekstrim dengan konsep inovatif sejak 2008 di Afrika,” katanya. “Seri baru itu akan membantu dalam transmisi konten edukasi penting dengan cara yang menghibur dan informatif.”
Deutsche Welle akan men-transmit program belajar jarak jauh melalui radio medium paling penting di Afghanistan seperti juga memberi konten yang tersedia di Internet. Selanjutnya Direktur Jendral mengatakan bahwa proyek itu relevan bagi policy luar negeri dan perkembangan Jerman dan akan dibiayai oleh Departemen Luar Negeri Jerman.
Deutsche Welle akan mengudarakan “Learning by Ear for Afghanistan” via shortwave, satelit, FM di Kabul dan stasiun-stasiun mitra di berbagai propinsi di Afghanistan. Sekolah-sekolah juga akan bisa meng-akses teks dan materi-materi pelengkapnya dan informasi lebih mendalam akan disertakan setiap waktu. Sebagai tambahan, “Learning by Ear for Afghanistan” akan tersedia juga dalam bentuk CD.(Sumber: Deutsche Welle)
? DX LISTENING DIGEST 9-048, June 8, 2009
** BURMA.
BURMA PERKETAT PENGAWASAN PADA PEMILIK RADIO-RADIO “TAK TERDAFTAR”
Teks laporan situs Democratic Voice of Burma yang bermarkas di Norwegia tanggal 8 Juni
Junta Burma telah memperketat pengawasan atas peningkatan jumlah para pemilik radio tak terdaftar dalam sebuah usaha yang oleh para ahli media dilihat sebagai pembatasan pada kebebasan media dan akses ke siaran-siaran pro-demokrasi.
Junta yang memerintah kemarin mengeluarkan peringatan di Koran New Light of Myanmar bahwa mereka yang mendengarkan radio tanpa memiliki ijin bisa dituduh melawan Akta Wireless.
Peringatan tersebut tidak memberi informasi tentang alasan orang bisa menjadi tertuduh ataupun tentang penyebab meningkatnya jumlah pendengar, tetapi seorang jurnalis Burma di perbatasan China-Burma mengatakan peningkatan itu sehubungan dengan krisis politik.
“Orang cenderung membeli radio ketika terjadi pergolakan di bidang politik,” katanya.
“[Protes tahun 2007] mirip situasi sekarang. Begitu keadaan berubah seperti itu, orang membeli radio. Selama (pembantaian) 2003, penduduk Depayin membeli [radio].”
Ia menambahkan bahwa penjualan radio shortwave bikinan China, yang dipakai kelompok-kelompok media Burma dalam pengasingan, juga mengalami peningkatan.
Peliputan peradilan pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi oleh media lokal Burma betul-betul dikontrol.
Koran-koran dan jurnal-jurnal swasta yang di berada dalam pengawasan ketat dibatasi dalam penerbitan informasi apapun yang tidak diliput oleh publikasi milik pemerintah.
Pengawas media Reporters Without Borders bulan lalu memberi kritik pada laporan peradilan itu sebagai berpihak.
“Bahkan dengan akses yang dibatasi, masyarakat Burma tidak memperoleh informasi yang tepat karena sensor pimpinan militer mencegah adanya peliputan yang independen.”
Pimpinan Asosiasi Media Burma (BMA) dalam pengasingan mengatakan tindakan itu adalah satu usaha guna membatasi kebebasan media dan salah satu cara untuk menangkapi para pendengar media dalam pengasingan.
“Tindakan hukum pada para pendengar radio yang tidak membayar biaya perijinan … oleh Pemerintah Militer … adalah sebuah usaha untuk menjauhkan orang-orang Burma dari ketergantungan yang semakin meningkat pada radio-radio asing akhir-akhir ini,” kata Maung Maung Myint.
“Misalnya saja, kalau mereka ingin mengambil tindakan pada para pendengar radio asing, mereka menciptakan satu skenario di mana mereka akan bisa menahan mereka bukan karena alasan mendengarkan radio melainkan karena tidak mendaftarkan radio-radio mereka.” Sumber: situs Democratic Voice of Burma, Oslo, dalam bahasa Inggris 8 Jun 09 (via BBCM via DXLD)
** INDONESIA.
4750, RRI Makassar, 1042-1100 June 7. Terdengar tipe musik yang biasa dengan seorang penyanyi wanita. Pada jam, beberapa komentar oleh seorang perempuan dalam bahasa Indonesia disusul dengan komentar oleh seorang laki-laki yang saya yakin siaran berita. Sinyal tidak bagus.
Catatan: Itu satu-satunya stasiun Indo yang saya tangkap di 4 MHz pagi ini. Saya cek 4605, 4790, 4870, 4875 dan 4925. Ada beberapa carrier di 4925+ tetapi tidak terdengar audio apapun
(Chuck Bolland, Clewiston FLA USA, Watkins Johnson HF1000, DX LISTENING DIGEST)
Re: Ingin tahu kalau ada siaran RRI lain yang saat ini aktif di 60m? (gh, DXLD)
Yes, ada beberapa. Sebagai tambahan log CB di atas (dan barap berhati-hati dengan Makassar, karena China juga co-channel), yang menghasilkan sinyal yang cukup bagus ke New South Wales, yang juga bisa didengar sekitar 1100 UT:
4869.925, tertarik sampai setinggi .940 kHz: RRI Wamena (perkiraan lokasi).
Mungkin juga Sorong yang tertarik ke bawah.
4925.009, RRI Jambi
So, termasuk Makassar, hanya ada tiga stasiun Indo di 60. Fak Fak [4790v] sudah off mungkin selama dua minggu sampai sekarang.
Ada beberapa stasiun Indo di 90/75 meter, 1100+ UT:
3325.000, RRI Palangkaraya (perkiraan lokasi) di bawah PNG.
3344.962, RRI Ternate, lumayan di bawah PNG
3976.048, RRI Pontianak
3995.071, RRI Kendari
(David Sharp, NSW Australia, FT-950 dan ICF-2001, dxldyg via DX LISTENING DIGEST)
? Mereka antusias sekali cari stasiun-stasiun RRI di 60m [4700-5100 kHz]. Mestinya masih ada RRI Biak [4919.9 [DSWCI Domestic Broadcasting Survey April 2005] atau 4920 [WRTH 2009]]. Kalau ada rekan yang bisa tangkap selain RRI Makassar, saya tunggu infonya; tks. TA.
——————–
selamat datang SWL…..
sumber : swl 1.001 Monday, June 15, 2009

2 thoughts on “SWL edisi perdana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s