IRC Model Baru – Model Nairobi

[dxld] International Reply Coupons (IRCs): Yang lama keluar, yang baru datang . . .

From: Mike Terry To: DXLD
Dari surat ARRL, Vol 28, No 39 tanggal October 1, 2009
Website: http://www.arrl. org/

Ini saatnya membuang International Reply Coupons (IRCs) lama Anda.
"Beijing Model No 2" http://www.dailydx.com/images/IRC-2007-100.jpg harus diuangkan sebelum December 31, 2009.
Yang baru — IRC Model Nairobi http://www.dailydx.com/images/2008-08-08_irc.jpg – telah tersedia di Amerika Serikat sejak September 10 dan di tempat lain sejak July; harga di AS $2.10 per lembar.
Model Nairobi akan habis masa berlakunya di tahun 2013.

Untuk informasi lebih lanjut, klik http://www.arrl.org/news/stories/2009/09/30/11103/?nc=1.
Thanks to The Daily DX for the information.
http://www.eham.net/articles/22512

—————————-

sumber : swl 1.034 – Monday, October 05, 2009 by Tony ashar (TA)

Advertisements

Deklarasi Kerjasama Voice of America, BBC, Deutsche Welle, Radio France International, dan Radio Netherlands Worldwide

Deklarasi bersama VOA/BBCWS/DW/RFI/RNW

20 tahun setelah runtuhnya Tembok Berlin dan berakhirnya Perang Dingin, kebebasan berbicara masih tetap jauh dari kenyataan di banyak negeri di dunia dan para jurnalis harus menghadapi pembatasan yang bahkan lebih canggih bagi mereka untuk melakukan reportase secara bebas. Sementara, bagi beberapa dari kami, penggunaan multimedia merupakan satu bagian yang mutlak perlu dalam hidup keseharian, kami tidak boleh melupakan bahwa akses untuk informasi bebas masih tetap dibatasi pada sepertiga penduduk dunia. Kemunduran ekonomi global juga telah memperburuk situasi bagi banyak outlet media, terutama para brodkaster yang kurang bebas.

Sehubungan dengan itu, lima terbesar [sic] brodkaster international – Voice of America (VOA), BBC World Service (BBCWS), Deutsche Welle (DW), Radio France International (RFI) dan Radio Netherlands Worldwide (RNW) – menghimbau pemerintah di seluruh dunia untuk mengakhiri pembatasan bagi media. Dalam pertemuan tahunan mereka, tahun ini diselenggarakan di Berlin, para direktur jendral kelompok tersebut meminta perhatian para kepala negara untuk implementasi Artikel 19 Universal Declaration of Human Rights yang menyatakan, "setiap orang berhak atas kebebasan mengutarakan opini dan pendapat; hak tersebut mencakup kebebasan mempertahankan opini tanpa campur tangan dan mencari, menerima dan berbagi informasi dan ide melalui media apapun dan tanpa mengenal batas-batas negara." Para brodkaster internasional menekankan bahwa bukti demokratisnya negara-negara bisa diukur dari sejauh mana mereka memberi ijin kebebasan informasi, dan bahwa hal itu, sebaliknya, adalah penting bagi dilakukannya sebuah dialog budaya dan kebebasan pertukaran ide.

Selama tahun-tahun lalu, pembatasan bagi media, dan khususnya pada para brodkaster internasional, telah semakin meningkat selama kampanye pemilu. Banyak cara-cara termasuk campur tangan dengan sengaja pada transmisi, memblok dan penolakan layanan Internet, dan penyerangan dan penahanan para jurnalis, tercatat di Afghanistan, Burma, dan Iran.

Belum lagi, banyak orang-orang yang berani di masyarakat di seluruh dunia sedang memperjuangkan hak-hak mereka dan agar didengar. Erik Bettermann, yang sekarang mengetuai kelompok brodkaster internasional, menggaris-bawahi fakta tersebut dengan mengatakan: "Kami terkesan oleh kecerdikan dan semangat yang telah diperlihatkan oleh para pendengar di seluruh dunia dalam memanfaatkan media digital baru guna kepentingan komunikasi lintas batas. Kesaksian mereka di banyak peristiwa (yang banyak di antaranya pemerintah mereka sendiri lebih suka untuk tidak dilaporkan), seringkali disertai dengan bahan audio dan visual, merupakan satu awal era baru di bidang komunikasi, satu di antaranya kami, sebagai brodkaster international, juga terbantu dalam melengkapi laporan kami sendiri dengan catatan otentik yang diberikan oleh penduduk di wilayah-wilayah konflik di dunia yang sangat diinginkan beritanya."

Beberapa negara telah memperluas aturan-aturan pembatasan menyangkut siaran pada Internet dan media yang baru berkembang, selanjutnya membatasi akses memperoleh informasi. Negara-negara otoritarian yang secara teknis tidak memiliki sarana untuk mem-blok atau mengakhiri semakin meluasnya media baru kembali pada cara-cara represi dan intimidasi yang tradisional – pengadilan yang banyak makan biaya, penahanan berkepanjangan, penyitaan kekayaan – guna membatasi aliran berita, baik lokal maupun internasional.

Menjelang pertemuan Berlin, Reporters Without Borders (RSF) menerbitkan satu siaran pers yang menyatakan memberi perhatian pada laporan-laporan "bahwa Internet Service Provider di propinsi China bagian selatan Guangdong telah membuat satu filtering software baru disebut Landun (artinya Lapisan Biru atau Dam Biru) yang lebih kuat dari pendahulunya yang bermasalah, Dam Hijau." Akibatnya, menurut RSF, "akses ke situs berita independen jadi semakin sulit dan penuh risiko."

Saat ini, jurnalisme masih tetap dianggap sebagai salah satu mata pencaharian yang paling penuh risiko di dunia. "Selama tahun lalu, ratusan jurnalis di seluruh dunia – termasuk beberapa dari organisasi kami – telah diserang, ditahan, dikucilkan, diculik atau dibunuh," kelompok tersebut menegaskan. "Hal ini semakin memperkuat usaha-usaha kami untuk secara bersama menciptakan sebuah masyarakat sipil global, di mana aliran informasi bebas dan dialog budaya tidak mungkin dihindari", Erik Bettermann menyimpulkan.

Itu, dan semua berita terbaru, dapat ditemukan di http://blogs.rnw.nl/medianetwork/
Situs RSS:

Lengkap: http://blogs.rnw.nl/medianetwork/feed

Untuk konsumen: http://blogs.rnw.nl/medianetwork/category/for-consumers/feed

Untuk professional media: http://blogs.rnw.nl/medianetwork/category/for-media-professionals/feed

Newsletter berikutnya pada Kamis 8 Oktober 2009. Good listening!

Andy Sennitt
Media Network
Radio Netherlands

——————————–
sumber : swl 1.034 – Monday, October 05, 2009 oleh Tony Ashar (TA)

Siaran Radio Nederland Tentang Gempa di Sumatra

Media Network Newsletter 1 October 2009

Halo dari Hilversum,

Minggu ini kami punya beberapa pengumuman dari RNW, jadi langsung saja:

·Siaran ekstra RNW bahasa Indonesia sehubungan dengan gempa bumi

Menyusul gempa bumi di Sumatra, Indonesia, RNW menambah beberapa jadwal siaran dalam bahasa Indonesia besok. Perkiraan jadwal adalah:

0600-0900 UTC via Singapore on 7235 kHz
0600-1100 UTC via Dhabbaya, UAE on 21480 kHz
0600-1300 UTC via Madagascar on 21730 kHz

Siaran tambahan tersebut mungkin berlanjut sampai akhir minggu.

Jadwal baru B09 frekwensi shortwave/mediumwave RNW, efektif mulai 25 Oktober 2009, sekarang telah diumumkan dan tersedia di situs kami. Sudah tentu jadwal tersebut tentatif, tetapi manager frekwensi Jan Peter Werkman memberitahu saya bahwa ia tidak mengharapkan banyak perubahan sebelum jadwal diberlakukan.

——————————-

Sumber : swl 1.034 – Monday, October 05, 2009 oleh Tony Ashar (TA)