Temu Pendengar Perdana Borneo Listeners Club

Temu Pendengar Perdana – “Acara Deklarasi” Borneo Listeners Club yang dilakukan di halaman rumah kami (Sekretariat BLC ) di Jln Penjajap Timur 3A Pemangkat Kalimantan Barat.

Acara sebenarnya sudah dimulai jam 07.00 WIB ( pagi hari ) dengan mengundang pemuka masyarakat dan tetangga untuk acara syukuran dan pembacaan doa. Kemudian dilakukan persiapan tempat, konsumsi dan menunggu undangan yang hadir. Acara deklarasi dimulai jam 16.00 WIB s/d 17.30 WIB ( 2 jam lebih lambat dari rencana semula yang direncanakan jam 14.00 WIB-17.00 WIB). Walau demikian saya bersyukur acara ini dapat terselenggara dengan baik.
Isi acara Temu Pendengar tersebut dirangkai sebagai berikut :
1. Kata sambutan dari Ketua BLC
2. Kata sambutan dari perwakilan pendengar
3. Perkenalkan VOV dan klub pendengar ( Mapem Club, Always Group dan MMC )
4. Peluncuran Buletin MEDIATOR
5. Pembacaan Doa
6. Acara Santai ( makan bersama )
7. Pembagian door prize dari VOV dan RTISI
8. Photo bersama
Acara kali ini dihadiri oleh 28 orang peserta dengan 2 sesi jumpa dimana ada 22 orang yang ikut acara dari awal acara dan 6 orang yang datang terlambat. Namun semua saya abadikan buat rekanan klub pendengar.

Rudi Hartono

—————-
sumber :  swl 1.057 by pak Tony Ashar dan email yang dikirim kepada penulis

Berita selengkapnya mengenai kegiatan ini dapat diikuti di : bielsi

Undangan Temu Pendengar Radio Taiwan International Siaran Indonesia Jakarta-Yogyakarta 2009

Undangan Temu Pendengar Radio Taiwan International Siaran Indonesia Jakarta-Yogyakarta 2009

Tanggal 29 Juli 2009 jam 13.00 WIB undangan Temu Pendengar RTISI akhirnya diterima, sebagian teman pendengar juga telah menginformasikan di FB dan sms bahwa mereka telah menerima undangan Temu Pendengar RTISI tersebut.

Undangan dalam amplop warna krem tersebut dikirim langsung dari Taipei Taiwan dengan cap pos tertanggal 22 Juli 2009. Selembar kartu undangan warna krem dikirim bersama dengan lembar susunan acara sebuah postcard bergambar Yushan National Park – Nort Peak of Jade Mountain dan selembar kecil notification.

Temu Pendengar Perdana Radio Taiwan International Siaran Indonesia untuk sesi Yogyakarta diselenggarakan pada :

Hari Tanggal : Minggu , 2 Agustus 2009
Waktu : 09.00 – 13.00 WIB
Tempat : Novotel Hotel (Novotel Ballroom, lantai 2)
Alamat : Jalan Jendral Sudirman No. 89, Yogyakarta 55223, Indonesia
Telp : 0274 580930
Note : Harap undangan ini dibawa saat pelaksanaan kegiatan
Dress code : formal

Susunan Acara : (masih tentative, akan ditetapkan pada hari H)

09.00-09.30 Penerimaan tamu dan pembagian souvenir
09.30-09.40 Pemutaran DVD RTI
09.40-09.45 Opening oleh MC
09.45-09.55 Kata sambutan : Ibu Alice Kao, Chairwoman RTI
09.55-10.00 Kata sambutan dari tamu
10.00-10.05 Perkenalan penyiar RTI
10.05-10.10 Kata sambutan dari wakil pendengar, penyerahan souvenir untuk RTI
10.10-10.30 Pembahasan pembentukan RTI Fans Club, Pemilihan ketua, penyerahan tanda terimakasih dari RTI
10.30-10.40 Pemutaran DVD Penyiar RTI SI
10.40-11.00 Perkenalan pendengar RTI (1)
11.00-11.10 Hiburan dari pendengar
11.10-11.30 Perkenalan pendengar RTI (2)
11.30-12.00 Diskusi : Masa depan RTI, perluasan dan jalinan kerjasama RTI dengan media Indoensia Q&A
12.00-12.10 "How deep is your love to RTI" Doorprize
12.10-12.20 Foto bersama
12.20-13.30 Makan siang
13.30 selesai

Notification : Mengingat masih banyak peminat yang terpaksa tidak dapat diterima, karena keterbatasan tempat, jamuan dan souvenir yang disediakan, untuk itu dimohon kerjasama dari peserta yang telah mendaftarkan diri dan memiliki undangan untuk hadir tepat pada waktunya.

Untuk sesi Jakarta akan diselenggarakan pada :

Hari/tanggal : Sabtu 1 Agustus 2009
Waktu : 09.00-13.00
Tempat : Sari Pan Pasific Hotel (Jayakarta Room)
Alamat : Jalan M.H. Tamrin No. 6, Jakarta 10340, Indonesia
Telp. : 021 3902707

Daftar peserta yang telah mendaftar dalam kegiatan ini dapat dilihat di website RTISI

SWL edisi perdana

M54 benar-benar berakhir… tapi pakTon telah menghadirkan penggantinya : swl
dan edisi perdananya terbit 15 Juni 2009.
spesial dan masih segar, edisi pertama kali ini saya postingkan lengkap :
——————————————————-
swl 1.001 Monday, June 15, 2009
1. Berusaha konsisten pada keputusan, serta tetap menghormati keinginan dan kepercayaan rekan-rekan, dengan ini saya buka ajang komunikasi interaktif dengan nama “swl“. Semoga berkenan di hati rekan-rekan, mari!. TNX.
2. Mohon maaf ada beberapa sms rekan yang belum saya balas; pulsa cekak 😦
3. Sudah isi dan kirim kembali formulir pendaftaran Temu Pendengar RTI yang direncanakan di Jakarta Sabtu 1 Agustus 2009 dan Yogyakarta Minggu 2 Agustus 2009? Deadline 25 Juni 2009 cap pos. Habis itu, tunggu Undangan resminya. TA
? MEDIA NETWORK
· Adopsi media baru atau hadapi kegagalan
June 5th, 2009 – 9:27 UTC by Andy Sennitt
Para brodkaster tradisional akan menjadi tidak relevan dalam beberapa tahun lagi kecuali mereka mengadopsi media baru, demikian yang terdengar dalam sebuah pertemuan internasional di Bonn hari ini. Peringatan yang membingungkan itu disampaikan oleh Tim Weber, yang memperhatikan konten bisnis BBC di radio dan layanan online-nya. Ia mengatakan kepada Global Media Forum bahwa adalah penting bagi para brodkaster memanfaatkan media online guna mencapai sebanyak mungkin pendengar. Dalam lautan pilihan digital, satu hal yang membuat mereka tetap tegar adalah cap mereka, katanya.
Direktur Asia Journalism Fellowship yang bermarkas di Singapore, P N Balji, mengatakan media tradisional tetap merupakan kekuatan besar di Singapore karena belum seorangpun menemukan satu cara menangguk uang dari media baru. Namun, katanya para brodkaster sadar bahwa “tsunami media baru” sedang mendekati mereka. Tetapi mereka tahu betul kapan hal itu akan datang atau bagaimana menghadapinya.(Sumber: Asia-Pacific Broadcasting Union)
· Deutsche Welle bangun proyek radio pendidikan di Afghanistan
June 5th, 2009 – 14:38 UTC by Andy Sennitt
Menyusul di tahun ini, Deutsche Welle akan membuat program radio ekstensif dalam bahasa Pashto dan Dari dengan sasaran pendengar lebih muda di Afghanistan. Proyek edukasi interaktif “Learning by Ear for Afghanistan” akan berfokus pada topik-topik seperti edukasi, demokratisasi dan proses pembangunan kembali negeri.
Erik Bettermann, Direktur Jendral brodkaster internasional Jerman, mengumumkan perkembangan baru itu pada acara penutupan Global Media Forum Deutsche Welle di Bonn. “Kami membangun atas dasar pengalaman positif kami yang ekstrim dengan konsep inovatif sejak 2008 di Afrika,” katanya. “Seri baru itu akan membantu dalam transmisi konten edukasi penting dengan cara yang menghibur dan informatif.”
Deutsche Welle akan men-transmit program belajar jarak jauh melalui radio medium paling penting di Afghanistan seperti juga memberi konten yang tersedia di Internet. Selanjutnya Direktur Jendral mengatakan bahwa proyek itu relevan bagi policy luar negeri dan perkembangan Jerman dan akan dibiayai oleh Departemen Luar Negeri Jerman.
Deutsche Welle akan mengudarakan “Learning by Ear for Afghanistan” via shortwave, satelit, FM di Kabul dan stasiun-stasiun mitra di berbagai propinsi di Afghanistan. Sekolah-sekolah juga akan bisa meng-akses teks dan materi-materi pelengkapnya dan informasi lebih mendalam akan disertakan setiap waktu. Sebagai tambahan, “Learning by Ear for Afghanistan” akan tersedia juga dalam bentuk CD.(Sumber: Deutsche Welle)
? DX LISTENING DIGEST 9-048, June 8, 2009
** BURMA.
BURMA PERKETAT PENGAWASAN PADA PEMILIK RADIO-RADIO “TAK TERDAFTAR”
Teks laporan situs Democratic Voice of Burma yang bermarkas di Norwegia tanggal 8 Juni
Junta Burma telah memperketat pengawasan atas peningkatan jumlah para pemilik radio tak terdaftar dalam sebuah usaha yang oleh para ahli media dilihat sebagai pembatasan pada kebebasan media dan akses ke siaran-siaran pro-demokrasi.
Junta yang memerintah kemarin mengeluarkan peringatan di Koran New Light of Myanmar bahwa mereka yang mendengarkan radio tanpa memiliki ijin bisa dituduh melawan Akta Wireless.
Peringatan tersebut tidak memberi informasi tentang alasan orang bisa menjadi tertuduh ataupun tentang penyebab meningkatnya jumlah pendengar, tetapi seorang jurnalis Burma di perbatasan China-Burma mengatakan peningkatan itu sehubungan dengan krisis politik.
“Orang cenderung membeli radio ketika terjadi pergolakan di bidang politik,” katanya.
“[Protes tahun 2007] mirip situasi sekarang. Begitu keadaan berubah seperti itu, orang membeli radio. Selama (pembantaian) 2003, penduduk Depayin membeli [radio].”
Ia menambahkan bahwa penjualan radio shortwave bikinan China, yang dipakai kelompok-kelompok media Burma dalam pengasingan, juga mengalami peningkatan.
Peliputan peradilan pemimpin oposisi Aung San Suu Kyi oleh media lokal Burma betul-betul dikontrol.
Koran-koran dan jurnal-jurnal swasta yang di berada dalam pengawasan ketat dibatasi dalam penerbitan informasi apapun yang tidak diliput oleh publikasi milik pemerintah.
Pengawas media Reporters Without Borders bulan lalu memberi kritik pada laporan peradilan itu sebagai berpihak.
“Bahkan dengan akses yang dibatasi, masyarakat Burma tidak memperoleh informasi yang tepat karena sensor pimpinan militer mencegah adanya peliputan yang independen.”
Pimpinan Asosiasi Media Burma (BMA) dalam pengasingan mengatakan tindakan itu adalah satu usaha guna membatasi kebebasan media dan salah satu cara untuk menangkapi para pendengar media dalam pengasingan.
“Tindakan hukum pada para pendengar radio yang tidak membayar biaya perijinan … oleh Pemerintah Militer … adalah sebuah usaha untuk menjauhkan orang-orang Burma dari ketergantungan yang semakin meningkat pada radio-radio asing akhir-akhir ini,” kata Maung Maung Myint.
“Misalnya saja, kalau mereka ingin mengambil tindakan pada para pendengar radio asing, mereka menciptakan satu skenario di mana mereka akan bisa menahan mereka bukan karena alasan mendengarkan radio melainkan karena tidak mendaftarkan radio-radio mereka.” Sumber: situs Democratic Voice of Burma, Oslo, dalam bahasa Inggris 8 Jun 09 (via BBCM via DXLD)
** INDONESIA.
4750, RRI Makassar, 1042-1100 June 7. Terdengar tipe musik yang biasa dengan seorang penyanyi wanita. Pada jam, beberapa komentar oleh seorang perempuan dalam bahasa Indonesia disusul dengan komentar oleh seorang laki-laki yang saya yakin siaran berita. Sinyal tidak bagus.
Catatan: Itu satu-satunya stasiun Indo yang saya tangkap di 4 MHz pagi ini. Saya cek 4605, 4790, 4870, 4875 dan 4925. Ada beberapa carrier di 4925+ tetapi tidak terdengar audio apapun
(Chuck Bolland, Clewiston FLA USA, Watkins Johnson HF1000, DX LISTENING DIGEST)
Re: Ingin tahu kalau ada siaran RRI lain yang saat ini aktif di 60m? (gh, DXLD)
Yes, ada beberapa. Sebagai tambahan log CB di atas (dan barap berhati-hati dengan Makassar, karena China juga co-channel), yang menghasilkan sinyal yang cukup bagus ke New South Wales, yang juga bisa didengar sekitar 1100 UT:
4869.925, tertarik sampai setinggi .940 kHz: RRI Wamena (perkiraan lokasi).
Mungkin juga Sorong yang tertarik ke bawah.
4925.009, RRI Jambi
So, termasuk Makassar, hanya ada tiga stasiun Indo di 60. Fak Fak [4790v] sudah off mungkin selama dua minggu sampai sekarang.
Ada beberapa stasiun Indo di 90/75 meter, 1100+ UT:
3325.000, RRI Palangkaraya (perkiraan lokasi) di bawah PNG.
3344.962, RRI Ternate, lumayan di bawah PNG
3976.048, RRI Pontianak
3995.071, RRI Kendari
(David Sharp, NSW Australia, FT-950 dan ICF-2001, dxldyg via DX LISTENING DIGEST)
? Mereka antusias sekali cari stasiun-stasiun RRI di 60m [4700-5100 kHz]. Mestinya masih ada RRI Biak [4919.9 [DSWCI Domestic Broadcasting Survey April 2005] atau 4920 [WRTH 2009]]. Kalau ada rekan yang bisa tangkap selain RRI Makassar, saya tunggu infonya; tks. TA.
——————–
selamat datang SWL…..
sumber : swl 1.001 Monday, June 15, 2009