QSL VOA Selebi-Phikwe

QSL VOA via Selebi-Phikwe. Date : February 16, 2016. Time : 17.52 – 18.08 UTC. Language : English. Frequency : 15.580 kHz. SINPO : 23222. Signal strength is poor, with noise and more fading. Program : talk by female interviewed by female about women on African country situation, News report at 18.00 by female about oil, and voice from oil ministry on Saudi Arabia, then Station ID, “World News from VOA” then African News Tonight about situation on Cameron and Boko Haram. Report send via email. Received via postmail  in 33 days.

Email askvoa[at]voanews.com

QSL VOA picQSL VOA back

 

Advertisements

VOA memanfaatkan fitur pesan SMS untuk pendengarnya di seluruh dunia

MEDIA NETWORK : December 9th, 2009 – 11:22 UTC oleh Andy Sennitt. Teks siaran pers Voice of America tanggal 8 Desember

Karena sekarang orang mencari berita dan informasi melalui peralatan mobile, Voice of America (VOA) memanfaatkan pengiriman pesan SMS – short messaging service – untuk memberi informasi kepada pendengarnya di seluruh dunia. “Pertumbuhan mobile technology sebagian besar disebabkan oleh para pemakai muda, urban pada teknologi baru,” kata Gwen Dillard, direktur Divisi Afrika VOA. “Adalah penting untuk memperhatikan pasar ini dan mencoba untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru mereka, karena selanjutnya mereka akan berperan pada para pemakai generasi mendatang. Persaingan memang keras. Kami perlu me-respon pasar yang sedang tumbuh ini.” VOA bersama provider lokal telah bekerjasama dalam pengiriman SMS di wilayah-wilayah seperti:
* Nigeria. VOA siaran bahasa Hausa Service punya sekitar 13,700 pelanggan bekerja sama dengan Dottxt di mana pemakai bisa mendapat sampai empat pesan peringatan dalam sehari.
* Kenya. Lebih dari 1,000 orang telah sign up ke VOA siaran bahasa Swahili melalui Safaricom.
* Ghana. Lebih dari 144,000 pelanggan telah sign up ke pesan peringatan VOA siaran bahasa Inggris melalui kerjasama dengan Tigo.
* Pakistan. Siaran bahasa Urdu VOA menampilkan audio newscasts cell phone tiga kali sehari.
* Indonesia. VOA punya kerjasama dengan Jatis untuk pengiriman dua SMS headlines per hari.
* China. Materi pelajaran bahasa Inggris VOA telah dipasang di cell phone Nokia. Sampai akhir tahun 2008, telah diunduh 357,502 materi VOA Mandarin oleh sekitar 210,000 pemakai cell phone Nokia.
* Iran. Rencana sedang disusun untuk Jaringan Berita bahasa Farsi VOA guna menambahkan aplikasi untuk iPhone Apple, yang memungkinkan orang-orang Iran untuk men-download siaran-siaran bahasa Farsi.

Sebagai tambahan untuk text messaging dan aplikasi Web, VOA sedang meng-upgrade dan memperbesar ke-17 situs mobilenya dengan memasukkan semua konten berita grafik, audio dan video. Banyak dari siaran bahasa lain – semuanya 45 – akan segera meluncurkan pesan berita SMS, termasuk Special English, French-to-Africa dan siaran bahasa Zimbabwe.

(Sumber: siaran pers Voice of America, Washington DC, bahasa Inggris 8 Des 09 via BBC Monitoring)

————————–

Sumber : swl 1.055 – Friday, December 25, 2009 oleh Tony Ashar

Deklarasi Kerjasama Voice of America, BBC, Deutsche Welle, Radio France International, dan Radio Netherlands Worldwide

Deklarasi bersama VOA/BBCWS/DW/RFI/RNW

20 tahun setelah runtuhnya Tembok Berlin dan berakhirnya Perang Dingin, kebebasan berbicara masih tetap jauh dari kenyataan di banyak negeri di dunia dan para jurnalis harus menghadapi pembatasan yang bahkan lebih canggih bagi mereka untuk melakukan reportase secara bebas. Sementara, bagi beberapa dari kami, penggunaan multimedia merupakan satu bagian yang mutlak perlu dalam hidup keseharian, kami tidak boleh melupakan bahwa akses untuk informasi bebas masih tetap dibatasi pada sepertiga penduduk dunia. Kemunduran ekonomi global juga telah memperburuk situasi bagi banyak outlet media, terutama para brodkaster yang kurang bebas.

Sehubungan dengan itu, lima terbesar [sic] brodkaster international – Voice of America (VOA), BBC World Service (BBCWS), Deutsche Welle (DW), Radio France International (RFI) dan Radio Netherlands Worldwide (RNW) – menghimbau pemerintah di seluruh dunia untuk mengakhiri pembatasan bagi media. Dalam pertemuan tahunan mereka, tahun ini diselenggarakan di Berlin, para direktur jendral kelompok tersebut meminta perhatian para kepala negara untuk implementasi Artikel 19 Universal Declaration of Human Rights yang menyatakan, "setiap orang berhak atas kebebasan mengutarakan opini dan pendapat; hak tersebut mencakup kebebasan mempertahankan opini tanpa campur tangan dan mencari, menerima dan berbagi informasi dan ide melalui media apapun dan tanpa mengenal batas-batas negara." Para brodkaster internasional menekankan bahwa bukti demokratisnya negara-negara bisa diukur dari sejauh mana mereka memberi ijin kebebasan informasi, dan bahwa hal itu, sebaliknya, adalah penting bagi dilakukannya sebuah dialog budaya dan kebebasan pertukaran ide.

Selama tahun-tahun lalu, pembatasan bagi media, dan khususnya pada para brodkaster internasional, telah semakin meningkat selama kampanye pemilu. Banyak cara-cara termasuk campur tangan dengan sengaja pada transmisi, memblok dan penolakan layanan Internet, dan penyerangan dan penahanan para jurnalis, tercatat di Afghanistan, Burma, dan Iran.

Belum lagi, banyak orang-orang yang berani di masyarakat di seluruh dunia sedang memperjuangkan hak-hak mereka dan agar didengar. Erik Bettermann, yang sekarang mengetuai kelompok brodkaster internasional, menggaris-bawahi fakta tersebut dengan mengatakan: "Kami terkesan oleh kecerdikan dan semangat yang telah diperlihatkan oleh para pendengar di seluruh dunia dalam memanfaatkan media digital baru guna kepentingan komunikasi lintas batas. Kesaksian mereka di banyak peristiwa (yang banyak di antaranya pemerintah mereka sendiri lebih suka untuk tidak dilaporkan), seringkali disertai dengan bahan audio dan visual, merupakan satu awal era baru di bidang komunikasi, satu di antaranya kami, sebagai brodkaster international, juga terbantu dalam melengkapi laporan kami sendiri dengan catatan otentik yang diberikan oleh penduduk di wilayah-wilayah konflik di dunia yang sangat diinginkan beritanya."

Beberapa negara telah memperluas aturan-aturan pembatasan menyangkut siaran pada Internet dan media yang baru berkembang, selanjutnya membatasi akses memperoleh informasi. Negara-negara otoritarian yang secara teknis tidak memiliki sarana untuk mem-blok atau mengakhiri semakin meluasnya media baru kembali pada cara-cara represi dan intimidasi yang tradisional – pengadilan yang banyak makan biaya, penahanan berkepanjangan, penyitaan kekayaan – guna membatasi aliran berita, baik lokal maupun internasional.

Menjelang pertemuan Berlin, Reporters Without Borders (RSF) menerbitkan satu siaran pers yang menyatakan memberi perhatian pada laporan-laporan "bahwa Internet Service Provider di propinsi China bagian selatan Guangdong telah membuat satu filtering software baru disebut Landun (artinya Lapisan Biru atau Dam Biru) yang lebih kuat dari pendahulunya yang bermasalah, Dam Hijau." Akibatnya, menurut RSF, "akses ke situs berita independen jadi semakin sulit dan penuh risiko."

Saat ini, jurnalisme masih tetap dianggap sebagai salah satu mata pencaharian yang paling penuh risiko di dunia. "Selama tahun lalu, ratusan jurnalis di seluruh dunia – termasuk beberapa dari organisasi kami – telah diserang, ditahan, dikucilkan, diculik atau dibunuh," kelompok tersebut menegaskan. "Hal ini semakin memperkuat usaha-usaha kami untuk secara bersama menciptakan sebuah masyarakat sipil global, di mana aliran informasi bebas dan dialog budaya tidak mungkin dihindari", Erik Bettermann menyimpulkan.

Itu, dan semua berita terbaru, dapat ditemukan di http://blogs.rnw.nl/medianetwork/
Situs RSS:

Lengkap: http://blogs.rnw.nl/medianetwork/feed

Untuk konsumen: http://blogs.rnw.nl/medianetwork/category/for-consumers/feed

Untuk professional media: http://blogs.rnw.nl/medianetwork/category/for-media-professionals/feed

Newsletter berikutnya pada Kamis 8 Oktober 2009. Good listening!

Andy Sennitt
Media Network
Radio Netherlands

——————————–
sumber : swl 1.034 – Monday, October 05, 2009 oleh Tony Ashar (TA)